Sepetak Ruang Cengkrama

Langitmu adalah langit yang sama dengan langitku. Tapi persepsimu bukan berarti sama dengan persepsiku atas langit.
uutpoetry:


Skeptical Cosmological Poem
January 31, 2008
The monarchic cosmos is over. We’ve bred a race of pseudo-thinkers, too calculating and skeptical to watch their gilt-handled swords strike the law in gardens of electronica. Their arrows pull back and let fly but do not breech the gulf of flux, so I’m safe to enjoy my private beach and nearly lifeless ocean perusing bemusedly the metal-clad choir. Oddly we’re still a scoriac people, sniffing glue and the paint of car shops, ready to scram back to caves to find the art of altering the mind. But let’s admit that without small children letting go of carnival balloon strings, the world would be too much for some.
Loading your kingdom on a ship that’s bound to sink is another denial of this fact. And on those waves warrior-kings cruise with squinted eye. From my apartment I watch the glint off the king’s helmet and the glimmer of stars on the sand.
art by Matsuda Matsuo

uutpoetry:

Skeptical Cosmological Poem

January 31, 2008

The monarchic cosmos is over. We’ve bred a race
of pseudo-thinkers, too calculating and skeptical
to watch their gilt-handled swords
strike the law in gardens of electronica.
Their arrows pull back and let fly but do not breech
the gulf of flux, so I’m safe to enjoy
my private beach and nearly lifeless ocean
perusing bemusedly the metal-clad choir. Oddly
we’re still a scoriac people, sniffing glue and
the paint of car shops, ready to scram back
to caves to find the art of altering the mind.
But let’s admit that without small children letting go
of carnival balloon strings,
the world would be too much for some.

Loading your kingdom on a ship that’s bound to sink
is another denial of this fact.
And on those waves warrior-kings cruise
with squinted eye. From my apartment I watch
the glint off the king’s helmet
and the glimmer of stars on the sand.

art by Matsuda Matsuo

Senandung Senja - Rusa Militan

Waktu tergelincir sudah

Tak hilang bayangan lembut jemarinya

Menyeka deras air mata

Redakan isak tangisku

Canda nada ceritanya

Tak luput dari telinga dan menggema

Mengusik derai duka lara

Antarku melawan lelah

Tinggal kisah yang tergores dan terujar di akalku

Cukupkah lembaran cerita merekam kasih itu

Berpuluh kali musim lalu

Tak pernah terdengar keluh di bibirnya

Demi harapan yang diam di tepi

Hingga nafas terhitung akhir

Tinggal kisah yang tergores dan terujar di akalku

Cukupkah lembaran cerita merekam kasih itu

Mampukah berbait syair melantunkan rasa rindu

Cerita Jumat

Jumat itu, menemukan kita untuk bersama, sesaat. Saling meluap rindu yang mengendap. Aku selalu ingin melambatkan waktu. Seperti kita melambatkan tatapan kita saat bertemu. Mempertegas setiap pijakan yang kita pijak bersama. Mengulurkan kebersamaan yang terasa begitu hangat.

Jumat itu, aku mengantarmu. Menemanimu menyelesaikan semua urusanmu. Lalu kita menjelajah film di bioskop itu. Dua jam kita duduk berdampingan, mengunyah pop corn dan menyeduh cola. Kamu terlihat kelaparan hingga melahap habis satu kantong pop corn. Lucu. Di akhir film, kamu berkata “really inspiring, great movie”. Aku tersenyum, dan kita segera berlalu.

Jumat itu, diatas kendaramu, sesekali kita beradu nafas dalam lantunan-lantunan argumen tentang film yang kita simak. Mencari alur meskipun sesekali menerjang alur itu sendiri. Ringan tidak memberatkan. Sembari diterpa angin, merasakan rimbunnya sore. Matahari sore itu berbeda, tak seperti biasanya. 

Jumat itu, kita habiskan sore diatas keranda, mencari rute terjauh untuk sampai ke rumah tercinta. Seperti ingin membunuh waktu, masih beradu. Tak kusangka aku sebahagia itu. Sesekali beradu mata meskipun itu sesak untuk dilakukan. Hingga bercerita lalumu dan laluku. Seperti itu. Menjadi cerita tersendiri untukmu dan untukku. Hingga rute terjauhpun lenyap dan tersadar sudah tepat berada di halaman depan rumahku.

Jumat itu, kamu berpamitan ragu. Rayumu sedikit membuat binar dalam raut wajahku. Berat meng-iya-kanmu pulang. Namun, kututup dengan senyuman. Kamu berlalu dan aku masih menjaga penglihatanku agar tak terlepas darimu. Sampai akhirnya kamu menghilang dipenghujung jalan itu. 

Jumat itu, bersamamu, setelah menonton film itu, aku merasa setiap terpaan angin terasa berbeda merambati ditubuhku, setiap udara yang kuhirup terasa begitu membahagiakan, sinar mentari sore itu begitu menenangkan. Entah kapan aku akan merasakan denyutan nadiku mendesir kencang. Hingga pada akhirnya senyum ringan bingar dan seketika aku berucap “Thanks God It’s Friday”. 

Karena Jumat selalu memiliki cerita yang berbeda.

Nantinya akan ada masa dimana arah jarum jam tidak lagi ke kanan, namun ke kiri.

fabulam nubis: maret tak berujung pena

wisnusatriyo:

ini maret milikku yang aku bagi dengan banyak orang

ini maret milkku yang memiliki senja yang selalau murka

ini maret milikku dengan tanah tanah yang beriak dahaga

ini maret milikku yang belum tuntas, baru melahirkan bulan dengan setumit cahaya.

ini maret milikku yang masih terlalau muda untuk…

dodclown:

“Agitasi Tentang Dogma”, one of 3 others in our EP Project titled “Clowns Should Do Suicide”. It’s unmixed and without vocals. Mosh!

dodclown:

“Brokenland, Thx For The Fun”, one of 3 others in our EP Project titled “Clowns Should Do Suicide”. It’s unmixed and without vocals. Mosh!

JEWROS NECKLACE

JEWROS NECKLACE